Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 16, 2008

Pelembutan" Hawa Nafsu


Di antara tema yang menonjol dalam psikologi keislaman adalah pelembutan dan penghalusan hawa nafsu, syahwat dan naluri. Karena watak kesemuanya itu bisa melembut dan mengeras.
Di saat lembut, akallah yang menjadi hakim dan sempurnalah kemanusiaan seseorang. Di saat keras, hawa nafsulah yang menjadi hakim dan sempurnalah kebinatangan manusia. Dalam kedua kondisi tersebut, manusia sendirilah yang menentukan segalanya. Semakin sering seorang menuruti hawa nafsunya, semakin mengeras dan, akhirnya, semakin dominan ia. Sebaliknya, jika seseorang selalu malakukan tekanan atas hawa nafsu, maka lambat-laun ia akan melemah dan, implikasinya, mudah menurut pada kontrol akal.
Semua manusia, bertaqwa atau tidak, sama-sama mempunyai hawa nafsu dan syahwat.
Bedanya, yang bertaqwa mampu -secara aktif- menguasai dan mengatur hawa nafsu dan syahwatnya, sedangkan orang yang tidak bevtaqwa -secara pasif- dikuasai dan diatur oleh syahwat dan hawa nafsunya. Pada kondisi manapun manusia tetap berikhtiar. Ikhtiar berati melakukan penekanan dan pelatihan atas hawa nafsu, atau malahan (menurut istilah Imam Ali as peny.) menuruti kehendaknya (dengan mengurangi tuntutannya). Dalam kajian selanjutnya, saya akan membahas kiat-kiat menguasai hawa nafsu, nash-nash keislaman yang menjelaskan dua keadaan (posisi) hawa nafsu -yang lemah dan yang keras -, teknik melemahkan hawa nafsu, dan perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan terkristalnya hawa nafsu.
Alquran menjelaskan:"... tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan kamu beuci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan..."(Q.S.Al-Hujurât :7).
Allah menanamkan rasa benci kepada kefasikan -yang diperebutkan para durja- dalam kalbu Mukmin dan ahli taqwa. Sebenarnya, siapakah yang membencikan orang-orang mukmin kepada kefasikan? Dan siapa pula yang membuat senang orang-orang fasik terhadap kefasikan?
Jawabnya, adalah Allah SWT Dia yang membencikan kefasikan kepada jiwa orang-orang Mukmin. Hati orang mukmin berada dalam genggaman dan kekuasaan Allah dan Allah senang kefasikan berada dalam jiwa orang fasik sebab orang fasik itu sendiri mencmtai kefasikan dan selalu mengikuti hawa nafsunya.
Rasulullah SAWW bersabda: "Rutin melakukan kebaikan berarti kebencian bagi kejelekan".[][20]
Konsistensi dalam melakukan kebaikan akan membawa kebencian atas kejelekan. Kejelekan yang dimaksud ialah syahwat dan kelezatan yang selalu dicari dan dikejar-kejar manusia. Karena, syahwat dan kelezatan yang diharamkan itu selalu dikejar-kejar oleh para penyeleweng dan kaum fasik. Begitu pula sebaliknya. Kejelekan yang selalu dilakukan akan membaca kecintaan pada kejelekan itu. Dan yang demikian itu adalah wajar dan rasional.
Imam Amiril Mukminin Ali as dalam khotbahnya yang menerangkan ciri-ciri orang taqwa dan khotbah ini dikenal dengan Khotbah Hammâm, beliau berucap: " (Ahli tagwa) itu dekat angan-angannya, sedikit kesalahannya, khusyu’ hatinya, mudah terpuaskan, sederhana makanannya, ringan urusannya, kukuh agamanya, "mati" nafsuniya, dan tertahan emosinya."[][21]
Sesungguhnya taqwa dapat melunakkan syahwat dan hawa nafsu seseorang. Dengan taqwa, jiwa yang serakah berubah menjadi qanâ’ah. Syahwat pun menjadi lemah-lembut seakan mati.
Nash di atas, dan yang semisalnya, tidak hendak menyatakan bahwa peran taqwa adalah pengekang syahwat dan hawa nafsu. Walau pengertian itu bisa dibenarkan, tapi maksud riwayat lebih jauh lagi. la ingin menekankan bahwa peranan taqwa itu juga untuk melemah-lembutkan hawa nafsu dan meringankan syahwat. Demikianlah riwayat-riwayat tersebut di atas saya pahami.
Selanjutnya saya akan nukilkan beberapa riwayat tanpa menyebut komentarnya.
Imam Ali as bersabda: "Semakin kokoh hikmah (seseorang), semakin lemah syahwatnya."[][22]
Imam Ali as berkata: "Jika kemampuan kita (dalam menaklukkan hawa nafsu) bertambah, maka (tuntutan-tuntutan) hawa nafsu kita akan berkurang."[][23]
Imam Ali as berkata: "'lffah (inenjaga diri) dapat melemahkan syahwat (hawa nafsu)."[][24]
Imam Ali as berkata: "Siapa yang merindukan surga, akan melupalah syahwat.”[][25]
Imam Ali as berkata: "Ingatlah bahwa setiap kelezatan akan hilang. Setiap kenikmatan akan berpindah. Dan setiap bencana pasti akan berakhir jua. Dengan begitu kita telah niengabadikan nikmat, meujernihkan syahwat, menghilangkan takabur, mendekatkan bahagia, melipur lara, dan menggapai cita-cita."[][26]
Taqwa dan kontrol hawa nafsu ialah dua faktor yang (seharusnya) menguasai syahwat dan naluri manusia sampai sejauh mungkin. Sehingga hawa nafsu seiring dengan hukum Allah dan segala keinginannya sesuai dengan kehendak Allah SWT. Setelah itu, baru manusia dapat membenci dan lari dari segala yang dilarang Allah. Demikianlah manusia mencapai puncak interaksi dengan Tuhannya.
Perubahan jiwa yang menakjubkan ini sebenarnya telah dijelaskan oleh Allah dalam Alquran di surah Al-Hujurât ayat 7 yaitu:
"... tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan...".
Walhasil, keberadaan taqwa fase inilah yang sangat berpengaruh dalam jiwa manusia. Karena ia ticlak hanya mampu mencegah seseorang dari kefasikan, kekafiran dan kemaksiatan, namun juga menanamkan rasa benci terhadap hal-hal tersebut.



Sabtu, Maret 22, 2008

Jadi manusia sukses (dunia and akhirat)

Caranya mudah kalau kita ingin sukses. Tentunya sukses dengan jalan halal dan toyyibah ada tips2 yang ada harus kerjakan :
pertama adalah kita harus bermimpi. Proses bermimpi diikuti dengan cara visualisasi (membayangkan). Misalnya anda membayangkan punya rumah mewah, gaji tinggi, mobil BMW, dll. Bayangkan terus pada pikiran anda. Secara teratur dan setiap hari sehingga menjadi sebuah keingginan kuat untuk mewujudkan mimpi tersebut.



Kedua,memiliki tekad yang membaja. Seseorang yang memiliki tekad yang membaja, akan dengan mudah mengarungi lautan yang dalam, pegunungan yang terjal, serta tahan terhadap onak duri yang berserakan. Kesemua tantangan itu dihadapi dengan sebuah cita-cita yang luhur yaitu menjadi orang sukses (dunia & akhirat).
Ketiga, lakukan saat ini (now it). Terkadang kita terlalu sering bermimpi hingga pada akhirnya terjebak anggan angan panjang (kebiasaan ini dilarang lho oleh islam). Untuk mengantisipasi hal itu kita kudu harus dan wajib melakukan apa yang telah kita impikan atau rencanakan. Mulai dari tindakan yang kecil kecil sampai hal yang besar besar.misalnya elu ingin bercita cita jadi menejer. Tindakan pertama yang harus elu lakukan adalah belajar menjadi pemimpin dilokal kuliah, berusaha untuk merapikan barang-barang pribadi, melatih komunikasi interpersonal,kemampuan bahasa asing yang mumpuni,dll.
Keempat, kita berusaha bergaul dengan orang yang telah sukses. Siapa yang bergaul dengan tukang las maka anda akan terciprat apinya dan siapa yang bergaul dengan tukang parfum maka anda akan terciprat wanginya. Untuk itu saya sarankan anda untuk bergaul dengan orang optimis, pekerja kerja dll yang menunjukan bahwa ia akan mencapai sukses atau sudah sukses.
Kelima, buat perencanaan yang matang.anda harus membuat langkah langkah untuk mewujudkan citacita anda menjadi orang sukses. Ada banyak metode yang telah dikeluarkan para ahli-ahli manajemen praktis.untuk kesempatan ini saya akam berikan satu konsep yang digagas oleh satria hadi lubis dalam bukunya breking time. Kita mulai dari melist peran2 kita saat ini dan saat yang akan datang (misalnya mahasiswa, aktivis, anak,dll), sesudah itu buat indicator keberhasilan tiap tahunnya sampai lima tahun dari setiap peran peran yang anda mainkan.indikator2 yang dibuat harus realistis dan untuk meminilisir factor kegagalan maka harus dibuat alternative dari target2 anda. Kemudian lakukan evaluasi secara berkala dan berkesinambungan.
Semoga dengan anda menggunakan lima kekuatan sukses diatas anda akan menjadi orang sukses.amin
Selamat mencoba.
Salam jihad.
Dengan siapa Anda bergaul,
Apa yang Anda lakukan dari hari ke hari,
Bagaimana cara Anda berbicara dan apa yang Anda katakan,
Apakah Anda bertanggungjawab atau menyalahkan,
Apakah Anda pantang menyerah,
Apakah Anda punya rencana,
Apakah Anda punya semangat untuk hidup dan menjalani rencana,
Apakah Anda bertindak dengan sengaja atau reaksional, dan
Bagaimana Anda menyikapi dan menjalani hidup ini

Blog Archive

FORMI MADANI UNP ©Template Blogger Green Formi by Forum Islam Ekonomi.

TOPO